di tempat kita bersama,
kadang kita masih saling menatap satu sama lain,
...saling bertanya tentang ribuan rahasia
yang bersembunyi di balik rerimbunan rasa.
Namun suasana sejuk bukit ini hanya tersenyum,
merangkul keakraban kita diam-diam…
Aku tahu, selendang pelangi yang memancar dari kedua matamu adalah sisa gerimis panjang yang turun dari mendung-gelisah kesendirianmu tadi malam. Kudengar cukup lama hujan dan badai memburumu tiada henti, cukup sering gelap bersembunyi mengintai hari-harimu untuk kemudian mencuri mimpi mungil di malam-malam istirahatmu yang dingin. Namun mentari memang selalu setia melayanimu, menyajikan secangkir segar pagi yang hangat di atas cawan kuning keperak-perakan yang memancar indah dari balik jendela waktu hingga basah-dinginmu perlahan memuai menjadi biru yang menghampar di sekujur tubuh langit.
Sekarang kau datang padaku dengan setangkai kisah yang menebarkan aroma tarian rerumputan pada pernikahan musim hujan dengan angin sepoi pada suatu upacara yang hangat dan ramah di suatu pagi yang cerah. Dengan semangat yang berkobar, kau berceloteh tentang lagu-lagu yang mengalun dari melodi nada yang menari diantara hijau kerinduanmu pada kesederhanaan. Kau duduk di teduhnya hari dan kau tawarkan padaku sebuah jamuan rindu. Dengan renyahnya, kau colek aku dengan setulus senyumanmu yang paling manis dan cair, semanis dan secair air yang mengaliri tenggorokanku yang haus dan kering di terik yang panas. Cukup kita disini, katamu sekali-kali, membuatku semakin betah untuk tetap berada di dekatmu.
Musim hujan barangkali masih akan sering berselisih dengan kita sebagaimana musim kemarau juga masih sering menggersangkan bukit kita. Masih akan banyak hari-hari yang asing yang belum tersentuh oleh keakraban yang kita rangkai dari rayuan hijau rerumputan dan cokelat tanah bebatuan bukit ini. Kadang aku masih merasakan ketegangan di hati ini terbang begitu tinggi saat suhu lelah dalam diri mencapai titik paling teriknya. Namun aku tetap percaya, dari kebersamaan kita, ada suasana sejuk yang akan selalu menghiburku dan membuatku tetap tertawa sekalipun segala gerah mengaliri sungai kehidupanku, dan kurasa kamu juga bisa merasakannya. Lalu kenapa kita tak berusaha untuk saling lebih erat bergandengan tangan saja? Sebab satu-satunya yang kutahu dari kebersamaan, adalah satu-satunya kenyataan bahwa ia tumbuh segar dari akar cinta yang paling suci, menghangatkan lubuk hati yang paling murni.
Sekarang kau datang padaku dengan setangkai kisah yang menebarkan aroma tarian rerumputan pada pernikahan musim hujan dengan angin sepoi pada suatu upacara yang hangat dan ramah di suatu pagi yang cerah. Dengan semangat yang berkobar, kau berceloteh tentang lagu-lagu yang mengalun dari melodi nada yang menari diantara hijau kerinduanmu pada kesederhanaan. Kau duduk di teduhnya hari dan kau tawarkan padaku sebuah jamuan rindu. Dengan renyahnya, kau colek aku dengan setulus senyumanmu yang paling manis dan cair, semanis dan secair air yang mengaliri tenggorokanku yang haus dan kering di terik yang panas. Cukup kita disini, katamu sekali-kali, membuatku semakin betah untuk tetap berada di dekatmu.
Musim hujan barangkali masih akan sering berselisih dengan kita sebagaimana musim kemarau juga masih sering menggersangkan bukit kita. Masih akan banyak hari-hari yang asing yang belum tersentuh oleh keakraban yang kita rangkai dari rayuan hijau rerumputan dan cokelat tanah bebatuan bukit ini. Kadang aku masih merasakan ketegangan di hati ini terbang begitu tinggi saat suhu lelah dalam diri mencapai titik paling teriknya. Namun aku tetap percaya, dari kebersamaan kita, ada suasana sejuk yang akan selalu menghiburku dan membuatku tetap tertawa sekalipun segala gerah mengaliri sungai kehidupanku, dan kurasa kamu juga bisa merasakannya. Lalu kenapa kita tak berusaha untuk saling lebih erat bergandengan tangan saja? Sebab satu-satunya yang kutahu dari kebersamaan, adalah satu-satunya kenyataan bahwa ia tumbuh segar dari akar cinta yang paling suci, menghangatkan lubuk hati yang paling murni.